2.1. Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata
derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau
menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan termasuk realitas dunia
dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga
yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidalmya intensitas
penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum
tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk
mencapai kenilcmatan dan kebahagiaan.
Penderitaan akan dialami oleh semua
orang, hal itu sudah merupakan "risiko" hidup. Tuhan memberikan
kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan
atau kesedihan yang kadang-kadang bennakna agar manusia sadar untuk tidak
memalingkan dariNya. Untuk itu pada umumnya manusia telah diberikan tanda atau
wangsit sebelumnya, hanya saja mampukah manusia menangkap atau tanggap terhadap
peringatan yang diberikanNya? Tanda atau wangsit demikian dapat berupa mimpi
sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau mengetahui
melalui membaca koran tentang terjadinya penderitaan. Kepada manusia sebagai
homo religius Tuhan telah memberikannya banyak kelebihan dibandingkan dengan
mahluk ciptaannya yang lain, tetapi mampukah manusia mengendalikan diri untuk
melupakannya ? Bagi manusia yang tebal imannya musibah yang dialaminya akan
cepat dapat menyadarkan dirinya untuk bertobat kepadaNya clan bersikap pasrah
akan nasib yang ditentukan Tuhan atas dirinya. Kepasrahan karena yakin bahwa
kekuasaan Tuhan memang jauh lebih besar dan dirinya, akan membuat manusia merasakan
dirinya kecil dan menerima takdir. Dalam kepasrahan demikianlah akan diperoleh
suatu kedamaian dalam hatinya, sehingga secara berangsur akan berkurang
penderitaan yang dialaminya, untuk akhimya masih dapat bersyukur bahwa Tuhan
tidak memberikan cobaan yang lebih berat dari yang dialaminya.
Baik dalam Al Quran maupun kitab
suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang
dialami oleh manusia atau berisi peringatan bagi manusia akan adanya
penderitaan. Tetapi umunya manusia kurang mempethatikan peringatan tersebut,
sehingga manusia mengalami penderitaan.
Hal itu misalnya dalam surat
Al.Insyiqoq:6 (q) dinyatakan "manusia ialah mahluk yang hidupnya penuh
perjuangan. Ayat tersebut harus diartikan, bahwa manusia hams bekerja keras
untuk dapat melangsungkan hidupnya. Untuk kelangsungan hidup ini manusia harus
menghadapi alam (menaklukan alam), menghadapi masyarakat sekelilingnya, dan
tidak bole h lupa untuk taqwa terhadap Tuhan. Apabila manusia melalaikan salah
satu darinya, atau kurang sungguh-sungguh menghadapinya, maka akibatnya manusia
akan menderita. Bila manusia itu sudah berkeluarga, maka penderitaan juga
dialami oleh keluarganya. Penderitaan semacam itu karena kesalahaunya sendiri.
Berbagai kasus penderitaan terdapat
dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan liku-liku
kehidupan manusia. Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya ?
Penderitaan fisik yang dialami manusia tentulah diatasi secara medis untuk
mengurangi atau menyembuhkannya. Sedangkan penderitaan psikis, penyembuhannya
terletak pada kemampuan si penderita dalarn menyelesaikan soal-soal psikis yang
dihadapinya. Para ahli lebih banyak membantu saja. Sekali lagi semuanya itu
merupakan "resiko" karena seseorang mau'hidup. Sehingga enak atau
tidak enak, bahagia atau sengsara merupakan dua sisi atau masalah yang wajib
diatasi.
2.2. Pengertian Siksaan
Siksaan
atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada
penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala
tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis,
yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi,
balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan
palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan.
Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan
pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai
alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu
pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk
memaksakanpindah agama atau cuci otak politik.
Penyiksaan
hampir secara universal telah dianggap sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia,
seperti dinyatakan Deklarasi Hak Asasi Manusia. Para penandatangan Konvensi
Jenewa Ketiga dan Konvensi Jenewa Keempat telah menyetujui untuk tidak
melakukan penyiksaan terhadap orang yang dilindungi (penduduk sipil musuh atau
tawanan perang) dalam suatu konflik bersenjata. Penanda tangan UN Convention
Against Torture juga telah menyetujui untuk tidak secara sengaja memberikan
rasa sakit atau penderitaan pada siapapun, untuk mendapatkan informasi atau
pengakuan, menghukum, atau memaksakan sesuatu dari mereka atau orang ketiga.
Walaupun demikian, organisasi-organisasi seperti Amnesty International
memperkirakan bahwa dua dari tiga negara tidak konsisten mematuhi
perjanjian-perjanjian tersebut.
2.3. Ketakutan Mental
Ketakutan mental memiliki arti dimana
seorang individu merasakan ketakutan yang berlebihan atau bisa dibilang phobia.
Hal ini bisa disebabkan karena trauma yang mendalam atau sugesti yang
berlebihan dari diri kita masing-masing.
Mental seorang manusia itu sebagian
besar diciptakan dari pikiran manusia itu sendiri. Jadi apabila kita memiliki
ketakutan yang berlebihan pada sesuatu maka hal itu akan terbawa dampaknya pada
mental kita. Sehingga menyebabkan ketakutan mental. Selain itu ketakutan mental
juga bisa disebabkan karena kita mengalami trauma, dimana trauma tersebut
sangat berpengaruh besar pada hidup kita. Sehingga rasa takut pada diri kita
sulit untuk dihilangkan dan mengakibatkan ketakutan mental.
Maka dari itu ketakutan mental
kebanyakan disebabkan oleh diri kita sendiri dan juga orang lain. Akan tetapi
hal tersebut bisa dihindari apabila kita memiliki keberanian yang lebih besar
dari rasa takut kita. Jangan lemah dan jangan mau kalah terhadap ketakutan pada
diri kita sendiri.
2.3.1. Gejala Seseorang Ketakutan
Mental
Gejala-gejala permulaan pada orang yang mengalami ketakutan
mental adalah sebagai berikut ;
· Jasmaninya sering merasakan
pusing-pusing, sesak napas, demam dan nyeri pada lambung.
· Jiwanya sering menunjukkan rasa
cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, dan mudah marah.
2.3.2. Sebab-sebab Munculnya
Ketakutan Mental
Kekalutan mental yang dapat di alami
oleh seseorang disebabkan oleh berbagai faktor yang ada disekitarnya, dalam hal
ini termasuk faktor-faktor internal atau dari dalam orang itu sendiri maupun
faktor eksternal atau hal-hal yang ada di lingkungan sekitarnya, keduanya
mengacu kepada konflik dan cara seseorang tersebut menyelesaikan konflik atau
masalahnya. Berikut sebab-sebabnya:
Kepribadian yang lemah akibat
kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering
menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, yang berangsur akan
menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya. Hal ini banyak terjadi
pada orang-orang melankolis.
Terjadinya konflik sosial-budaya
akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan dan yang ada dalam
masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi, misalnya orang dari
pedesaaan yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari
masa lalunya yang jaya.
Cara pematangan bathin yang salah
dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial; overacting
sebagai overkompensasi dan tampak emosional. Sebaliknya ada yang underacting sebagai rasa rendah diri yang
lari ke alam fantasi.
2.4. Hubungan antara penderitaan dan
perjuangan
Setiap manusia pasti
mengalami penderitaan, baik berat ataupun ringan. Penderitaan dikatakan sebagai
kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi manusia hidup, bahwa manusia
hidup ditakdiran bukan hannya untuk bahagia, melainkan juga menderita.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup.
Apabila
kita memperhatikan dan membaca riwayat hidup para pemimpin bangsa, orang-orang
di dunia, sebagian dari kehidupannya dilalui dengan penderitaan dan penuh
perjuangan.
Manusia adalah mahluk berbudaya dengan
budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yang mengancam atau dialaminya.
Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi
orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya
meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan
hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai
doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka.Manusia hanya
merencanakan dan Tuahan yang menentukan. Kelalaian manusia merupakan sumber
malapetaka yang menimbulkan penderitaaan. Penderitaan yang terjadi selain
dialami sendiri oleh yang bersangkutan, mungkin juga dialami oleh orang lain.
Bahkan mungkin terjadi akibat perbuatan atau kelalaian seseorang, orang lain
atau masyarakat menderita.
2.4.1. Hubungan antara
Penderitaan,Media Masa dan Seniman
Bagi media masa dan seniman
penderitaan dibuat melalui karya sastra yang dapat dikomunikasikan kepada masyarakat
sehingga ikut merasakan penderiaan tersebut. Dalam dunia modern sekarang ini
kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah dibuktikan oleh
kemajuan teknologi dan sebagainya.
Penderitaan yang terjadi di seluruh dunia merupakan salahs atu obyek sasaran
media massa untuk membuat berita,kemudian akan sampai ke seluruh penjuru
masyarakat termasukpara seniman yang kemudian akan mengapresiasikan
rasasimpatinya melalui karya seni
Mensejahterakan manusia dan sebagian
lainnya membuat manusia. Penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senjata,
peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya
penderitaan manusia. Hal ini sudah terjadi seperti bom atom di Hirosyima dan
Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir di Unisovyet, kebocoran gas beracun di
India. Penggunaan peluru kendali dalam perang Irak.
Beberapa sebab lain yang menimbulkan
penderitaan manusia ialah kecelakaan, bencana alam, bencana perang dan
lain-lain. Contohnya ialah tenggelamnya kapal Tampomas Dua di perairan Masalembo,
jatuhnya pesawat hercules yang mengangkut para perwira muda di Condet,
meletusnya gunung Galunggung, perang Irak dan Iran.
Media masa merupakan alat yang
paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia
secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai
untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati.
Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui
karya seni, sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan
sekaligus keindahan karya seni. Sebagai contoh bagaimana penderitaan anak yang
bernama Arie Hanggara yang mati akibat siksaan orang tuanya sendiri yang
difilmkan dengan judul Arie Hanggara.
2.4.2. Sebab-sebab Penderitaan.
Apabila dikelompokkan secara
sederhana berdasarkan sebab – sebab timbulnya penderitaa, maka penderitaan
manusia dapat diperinci sebagai berikut:
a. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manisa
karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan
hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini terkadang disebut
nasib buruk. Nasib buruk tersebut dapat berubah menjadi baik. Dengan kata lain
manusia itu sendirilah yang dapat memperbaiki nasibnya. Tuhan yang menntukan
sedangkan nasib buruk itu manusia penyebabnya. Perbuatan manusia terhadap
lingkungannya juga menyebabkan penderitaan manusia. Tetapi kadang manusia itu
sendiri tidak menyadarinya, contohnya kita membuang sampah sembarangan sehingga
menyebabkan banjir.
b. Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal dan optimisme dapat menjadi usaha untuk mengatasi penderitaan tersebut.
2.4.3. Pengaruh penderitaan
Seseorang
yang mengalami penderitaan biasanya akan menimbulkan sikap yang kurang wajar
atau negatif, karena pada saat seseorang terkena suatu musibah mereka
menganggap bahwa ini adalah suatu hal yang tidak mereka kehendaki atau inginkan
sikap yang timbul biasanya keputusasaan, kecewa, marah, menyesal dan lain-lain.
Selain itu seseorang juga dapat menjadi pribadi yang kurang baik
dilingkungannya karena pengaruh-pengaruh tehadap dirinya yang kurang baik
disaat dia mengalami suatu musibah.
Depresi
juga salah satu pengaruh dari penderitaan , karena begitu banyak sekali
tekanan-tekanan yang menuju kepada seseorang saat terkena musibah misalnya
seseorang yang dipecat dari perusahaanya tempat dia bekerja sudah pasti orang tersebut
mengalami tekanan yang sangat berat karena tidak bisa memberikan nafkah lagi
bagi sang istri, orang yang depresi cenderung untuk tidak ingin melakukan
kegiatan seperti biasanya karena sudah dilingkupi keputusasaan yang begitu
besar. Orang-orang disekitarnyalah yang dapat membangkitkan semangatnya
disamping selalu berserah diri dan selalu berdoa.
Selain sikap yang negatif ada juga sikap yang
positif yang akan ditimbulkan dari pengaruh penderitaan misalnya apabila
seseorang mendapatkan suatu cobaan yang berat orang tersebut malah bersyukur
karena itu mungkin peringatan atau teguran dari Tuhan yang maha esa terhadap
dirinya dan itu dapat menjadi ajang instropeksi diri apa saja selama ini yang
kita perbuat sudah sesuai dengan perintahNya atau belum. Sesungguhnya apa yang
terjadi di muka bumi ini mencerminkan dari mahkluk hidup yang ada di bumi
apakah mereka sudah melaksanakan perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.






0 komentar:
Posting Komentar