Selasa, 06 Mei 2014

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP



2.1. Pengertian Pandangan Hidup
           Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati, karena pandangan hidup menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup dapat diartikan sebagai pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
          Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus , sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal,sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut sebagai pandangan hidup.
Pandangan hidup banyak ragamnya, tetapi dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu :
1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.

 2.2. Cita-cita
           Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, cita-cita adalah harapan, keinginan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan atau harapan maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh oleh seseorang dimasa yang akan datang. Dengan demikian cita-cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan kata lain cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.

Tercapainya cita-cita seseorang bergantung pada 3 faktor berikut :
 1. Faktor Manusia yang mau mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Dalam hal ini apabila seseorang ini tidak mempunyai kemauan yang tinggi untuk mencapai cita-citanya, maka hanya akan menjadi suatu khayalan saja.
 2. Faktor Kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi tercapainya suatu cita-cita.
 3. Faktor Tingginya Cita-cita yang merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita-cita. Memang ada anjuran agar seseorang menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. Tetapi bagaimana faktor manusianya, mampukan seseorang itu untuk mencapai cita-citanya. Maka dari Itu ada yang menganjurkan untuk menempatkan cita-citanya yang sepadan atau sesuai dengan kemampuannya.

 2.3.  Kebajikan
          Kebajikan atau kebaikan merupakan perbuatan yang mendatangkan kebaikan yang pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika. Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari 3 segi yaitu :
 1. Manusia sebagai makhluk pribadi
Dalam hal ini manusia dapat menentukan sendiri mana yang menurutnya baik dan mana yang buruk. Dalam hal ini baik buruk ditentukan oleh suara hati sendiri.
2. Manusia sebagai anggota masyarakat
Dalam hal ini manusia harus mengikuti kumpulan-kumpulan suara hati pribadi dari setiap orang di dalam masyarakat.
3. Manusia sebagai makhluk Tuhan
Dalam hal ini manusia harus mendengarkan suara hati Tuhan.
            Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan suara hati Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa dan bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia adalah :
1.      Pembawaan ( Heriditas )
Pembawaan yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Pembawaan merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai oleh orang tua.
  2. Lingkungan ( Environment )
Lingkungan yang merupakan hal yang membentuk jiwa atau tingkah laku manusia adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
  3. Pengalaman
Lewat pengalaman ini, entah itu pengalam pahit atau manis akan memberikan manusia suatu bekal yang selalu dipergunakan untuk pertimbangan sebelum melakukan sesuatu atau mengambil suatu tindakan.

0 komentar:

Posting Komentar