2.1. Pengertian Pandangan Hidup
Setiap manusia
mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati, karena
pandangan hidup menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup dapat diartikan
sebagai pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan,
petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil
pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat
hidupnya.
Dengan demikian pandangan
hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja,
melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus , sehingga hasil
pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh
akal,sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil
pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut
sebagai pandangan hidup.
Pandangan hidup banyak ragamnya, tetapi dapat
diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu :
1. Pandangan hidup yang berasal dari
agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa
ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara
tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan
yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.
2.2. Cita-cita
Menurut kamus besar
Bahasa Indonesia, cita-cita adalah harapan, keinginan, tujuan yang selalu ada
dalam pikiran. Baik keinginan atau harapan maupun tujuan merupakan apa yang mau
diperoleh oleh seseorang dimasa yang akan datang. Dengan demikian cita-cita
merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang.
Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin
tinggi, dengan kata lain cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan
manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Tercapainya cita-cita seseorang bergantung pada 3 faktor
berikut :
1. Faktor Manusia yang
mau mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Dalam hal ini
apabila seseorang ini tidak mempunyai kemauan yang tinggi untuk mencapai
cita-citanya, maka hanya akan menjadi suatu khayalan saja.
2. Faktor Kondisi yang
mempengaruhi tercapainya cita-cita pada umumnya dapat disebut yang
menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi
yang memperlancar tercapainya cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat
merupakan kondisi yang merintangi tercapainya suatu cita-cita.
3. Faktor Tingginya
Cita-cita yang merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita-cita. Memang ada
anjuran agar seseorang menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. Tetapi
bagaimana faktor manusianya, mampukan seseorang itu untuk mencapai
cita-citanya. Maka dari Itu ada yang menganjurkan untuk menempatkan
cita-citanya yang sepadan atau sesuai dengan kemampuannya.
2.3.
Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan
merupakan perbuatan yang mendatangkan kebaikan yang pada hakekatnya sama dengan
perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari 3 segi yaitu :
1. Manusia sebagai makhluk pribadi
Dalam hal ini manusia dapat menentukan sendiri mana yang
menurutnya baik dan mana yang buruk. Dalam hal ini baik buruk ditentukan oleh
suara hati sendiri.
2. Manusia sebagai anggota
masyarakat
Dalam hal ini manusia harus mengikuti kumpulan-kumpulan
suara hati pribadi dari setiap orang di dalam masyarakat.
3. Manusia sebagai makhluk Tuhan
Dalam hal ini manusia harus mendengarkan suara hati Tuhan.
Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara
hati masyarakat, dan suara hati Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun,
berbahasa dan bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkah laku manusia adalah :
1. Pembawaan ( Heriditas )
Pembawaan yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih
dalam kandungan. Pembawaan merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai oleh
orang tua.
2. Lingkungan ( Environment )
Lingkungan yang merupakan hal yang membentuk jiwa atau
tingkah laku manusia adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
3. Pengalaman
Lewat pengalaman ini, entah itu pengalam pahit atau manis
akan memberikan manusia suatu bekal yang selalu dipergunakan untuk pertimbangan
sebelum melakukan sesuatu atau mengambil suatu tindakan.






0 komentar:
Posting Komentar