Senin, 13 Januari 2014

Naik Turun Kehidupan

NAIK TURUN KEHIDUPAN

Dari kecil kita sering mendengar kata “cita-cita”. Cita-cita kamu apa dek? Itulah pertanyaan yang sering kita dengar. Kebanyakan anak-anak kalau ditanya seperti itu mereka menjawab, “aku pengen jadi polisi”, “aku pengen jadi dokter”, “aku pengen jadi pilot”. Itu-itu saja jawabannya. Mungkin  mereka begitu karena mereka belum mengerti betul apa makna sebenarnya dari cita-cita.

Cita-cita adalah  suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya, bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian yang lain cita-cita itu hanyalah mimpi belaka. Sebelum menggapai cita-cita, banyak proses yang harus kita lewati. Proses dimana pembelajaran hidup itu muncul. Sadar atau tidak, proses ini bisa mempengaruhi cita-cita kita. Jika kita kalah ditengah jalan, maka cita-cita itu akan meninggalkan kita. Tapi sebaliknya, jika kita menang dalam proses tersebut maka cita-cita itu akan datang dengan sendirinya.

Saya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Dan bagi saya cita-cita adalah tujuan hidup saya. Saya sadar betul kalau meraih cita-cita tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya harus melewati banyak proses untuk mencapai tujuan itu. Proses naik, proses turun, proses stagnan begitulah kira-kira yang akan saya jalani untuk meraih cita-cita saya. Proses demi proses saya harus jalani dengan legowo, begitu orang jawa bilang. Saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk bisa meraih impian saya.

Perkataan saya diatas memang relevan, karena saya juga mengalami proses naik, turun dan statis dalam kehidupan saya. Semenjak saya lahir ketiga proses itu tak bisa lepas dari saya. Begitupun dengan individu lain. Ketiganya itu tak bisa kita hindari. 

Untuk bisa mencapai impian, kita harus mempunya rencana untuk masa depan. Supaya kita lebih siap untuk menjalani hidup di masa yang akan datang. Tidak hanya itu, kita juga perlu belajar dengan pengalaman di masa lalu. Hal itu bisa menjadi bekal untuk kita. Untuk itu ada sebuah cara untuk merencanakan masa depan sekaligus belajar dari masa lalu. Salah satunya dengan membuat tabel cita-cita. Di dalam tabel ini kita menuliskan target-target yang harus kita capai di tahun ini dan di tahun yang akan datang. Berikut adalah tabel cita-cita yang saya sudah buat :




   
KETERANGAN:
TAHUN
PRESTASI
 1995
Lahir
1997
Bisa berjalan
1999
2004
Juara 3 di kelas
2005
Juara 1 di kelas
Juara 1 Lomba Matematika
Juara 3 Tenis Meja di Porseni
2006
Tidak memiliki prestasi
2007
2008
Mengikuti Olimpiade Biologi di Kabupaten
2010
2011
Mengikuti Olimpiade Biologi di Propinsi
Juara 1 Lomba Baris Berbaris se-Pulau Jawa
2013
Tidak masuk PTN
2014
IPK 3.5 lebih
2015
BIsa SARMAG


Nah, dari tabel cita-cita diatas kita dapat menyimpulkan bahwa dalam kehidupan saya ada naik dan turunnya. Hal ini juga bisa menjadi pembelajaran untuk tahun-tahun selanjutnya. Di dalam tabel ini pula terdapat target yang harus saya capai di tahun mendatang. Ini juga bisa dijadikan motivasi dan selalu ingat apa tujuan kita di tahun ini.  
Mungkin itu saja yang bisa saya share kali ini dan saya mohon doanya dari pembaca semoga saya bisa mencapai impian saya dan semoga apa yang direncakan oleh saya ke depannya bisa tercapai dengan baik. Amiinnnnn…….

TETAP SEMANGAT MENJALANI HIDUP J

Sabtu, 04 Januari 2014

EVERYONE CAN BE A INSPIRATIONAL FIGURES

EVERYONE CAN BE A INSPIRATIONAL FIGURES

Sang Tokoh
Tokoh inspiratif biasanya adalah seseorang yang dulunya kurang beruntung terus menjadi orang yang sukses dengan usaha yang gigih. Tetapi tidak menutup kemungkingan kalau tokoh inspiratif itu berasal dari orang yang biasa-biasa saja atau orang pinggiran . Bahkan menurut saya pola pikir orang pinggiran ini lebih inspiratif daripada orang yang sudah sukses. Orang pinggiran ini biasanya adalah pribadi yang low profile. Mereka tidak ingin dikasihani oleh orang lain, mereka ingin menjadi sukses dengan usahanya sendiri. Jadi, menurut saya tokoh inspiratif itu bisa siapa saja asalkan sang tokoh ini bisa memotivasi dan menginspirasi kita semua.
Kisah hidup orang pinggiran juga bisa menginspirasi banyak orang. Keseharian mereka dipenuhi dengan keikhlasan dan semangat yang kuat untuk melawan arus kehidupan yang kompleks ini. Kesederhanaan mereka juga menginspirasi kita. Mereka hidup dengan kesederhanaan yang menerima apa adanya kehidupan. 


Berangkat dari pemikiran tersebut saya mencari tokoh inspiratif yang tidak biasa. Saya mencari orang pinggiran yang bisa menginspirasi saya. Pertemuan dengan sang tokoh ini memang tidak disengaja. Saya bertemu dengan beliau di halaman Masjid terbesar di Asia Tenggara. Yap, yaitu di halaman Masjid Istiqlal.

Pak Sukardi
 Beliau ini namanya Pak Sukardi, umurnya sekitar 40 tahun. Beliau bekerja sebagai petugas kebersihan di Gedung Masjid Istiqlal, Jakarta. Begitu melihat sosoknya, saya langsung tertarik untuk ngobrol dengan beliau dan bertanya tentang kesehariannya. Berikut kutipan obrolan saya dengan sang tokoh:  

Saya (Mufni Alida) sebagai “A” dan Bapak Sukardi sebagai “B”.
A : “Nama bapak siapa?”
B : “Sukardi”
A : “Bapak tinggal dimana pak?”
B : “Depok”
A : “Terus udah berapa lama pak kerja di Masjid Istiqlal?”
B : “Dari tahun ’92 aja” kata bapak sambil tertawa. (karena tadinya bapak Sukardi ini ngakunya cuman karyawan baru di Istiqlal. Padahal nyatanya bapak ini udah kerja lama dari tahun 1992. Ketahuan deh bohongnya. Hahahaha)
A : “Kalau boleh tau, selama kerja disini ada suka sama dukanya gak pa?”
B : “Kalau kita kan sebagai marbot pasti ada suka dukanya, ya yang namanya hidup pasti begitu. Tapi kalau saya mah ikhlas aja lillahitaala. Ini kan juga buat nafkah anak istri saya di rumah, ya kita ga boleh mengeluh. Pokoknya apa yang kita kerjain itu harus ikhlas gtu…..
Kalimat yang dilontarkan oleh Bapak Sukardi diatas adalah kalimat yang menginspirasi saya bahwa dalam hidup ini kita harus ikhlas. Ikhlas dalam segala hal. Ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam pekerjaan maupun ikhlas dalam menolong orang lain. Kata “ikhlas” memang sangat mudah kita ucapkan tapi sangat sukar untuk kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Setelah termenung sekejap karena mendengar kata-kata ikhlas yang dilontarkan Pak Sukardi, saya lanjutkan kembali percakapannya.
A : “Oh ya pak, bapak ngontrak disini atau bolak balik depok?”
B : “Oh kalau saya pulang. Tiap hari pulang naik kereta”
A : “Pulangnya jam berapa pak?”
B : “Masuk jam setengah 8, kalau pulang jam 4 sore. Tapi kalau saya dapet piket bisa sampe jam 19.30 baru pulang”
A : “Bapak itu sebagai marbot sekaligus petugas kebersihan ya pak?”
B : “Sebenernya kalau bapak tugasnya di gedung. Bukan ngebersihin halaman”
Setelah banyak ngobrol tentang pekerjaan lalu saya menanyakan kehidupan keluarga Pak Sukardi.
A : “Bapak di Depok sama siapa aja tinggalnya?”
B : “Sama istri, sama anak juga.”
A : “Berapa pak anaknya?”
B : “Cuma satu”
A : ”Berapa pak umurnya?’
B : ”5 tahun”
A : “Tapi istri satu kan pak?” dengan nada bercanda.
B : “Ya iyalalah satu” menjawab dengan spontan dan lalu tertawa bersama.
Setelah agak lama melakukan wawancara, akhirnya lantunan Qori (orang yang membaca al-Quran) berkumandang dan membuat obrolan kita mencapai dua pertanyaan terakhir.
A : “Pertanyaan terakhir nih pak, Prinsip hidup bapak itu apa?”
B : “Kalau bapa sih prinsip hidupnya, kita hidup didunia ini tuh harus ikhlas, harus terima apa adanya yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita jangan sampe sirik sama orang lain. Yang penting kita hidup bahagia di dunia ini. Damai gtu. Rumah tangga akur terus. Tapi dalam hidup ini juga pasti ada masalah. Mau masalahnya gede atau kecil yang penting kita ikhlas ngejalaninnya. Enjoy enjoy aja dah….. hahaha”
A : “Kalau bapak sudah tua, bapak pengen tinggal dimana?”
B : “Ya kalau bapak mah tinggal dimana aja dah, yang penting nyaman.”
Tertawanya Pak Sukardi pun menutup wawancara inspirasi ini.
Sesudah melalukan wawancara saya dan beliau pergi ke masjid berasama untuk melaksanakan ibadah.

Oh ya, untuk melengkapi tulisan ini saya ada beberapa tambahan mengenai profil sang tokoh. Bapak Sukardi sudah lama mempunyai penyakit asam urat. Beliau bercerita tentang penyakitnya itu di sela-sela wawancara. Saya salut kepada bapak satu anak ini karena beliau tetap semangat mencari nafkah walaupun beliau mempunyai penyakit yang cukup parah. Beliau sering merasakan sakit ketika bekerja, bahkan suatu ketika beliau pernah jatuh pingsan akibat tidak kuat menahan rasa sakit yang dideritanya itu.

Saya bersama Sang Tokoh
Dari wawancara yang saya sudah lakukan dengan sang tokoh, saya mendapatkan beberapa motivasi dan inspirasi dari beliau. Diantaranya yaitu hidup harus penuh dengan keikhlasan, terus kita sebagai manusia harus selalu bersyukur dan jangan banyak mengeluh serta dalam pekerjaan kita harus konsisten dan terus semangat.



5 KATA DARI SANG TOKOH:
IKHLAS, SEMANGAT, APA ADANYA, BERSYUKUR DAN KONSISTEN.


Demikian tulisan saya, semoga bisa bermanfaat bagi pembaca dan saya minta maaf jika ada kata-kata yang menyinggung dalam tulisan ini. Terima kasih dan SALAM SUPER!!!!