Ketika memberikan sebuah
defenisi akan cinta, akan lahir beberapa defenisi yang tentu saja akan berbeda
dari segi substansi atau hakikat cinta itu. Hal ini dikarenakan sudut pandang
yang berbeda pula. Semakin tinggi tingkat pemahaman terhadap suatu norma atau
prilaku, akan semakin kompleks penjabaran defenisi itu.
Pemberian pemaknaan akan
cinta akan senasib dengan pemberian defenisi tadi. Defenisi yang akan
mengantarkan pada suatu substansi kadang dikaburkan oleh ego bahkan nafsu
seseorang. Pemaknaan yang salah sebagai sebuah aktualisasi dari cinta seperti
pacaran akan mengantarkan pada suatu upaya untuk mendeskreditkan cinta yang luhur
sebagai fitrah kemanusiaan. Disamping itu, pemaknaan akan cinta dengan rasa
suka harus berani dibedakan. Cinta adalah fitrah yang sifatnya abstrak sehingga
perwujudannya berada dalam area metafisik (inmaterial). Sedangkan rasa
suka, adalah wujud rasa ketertarikan kepada hal yang bersifat materi.
2.1. PENGERTIAN CINTA KASIH
Pendefenisian
dalam perspektif terminology (bahasa), cinta kasih dapat diuaraikan Cinta kasih
adalah kata majemuk yang telah merupakan ungkapan tetap yang berupa paduan
antara kata sifat yang terdiri dari kata “cinta” dan “kasih”. Cinta akan
diartikan sebagai rasa rindu, ingin, sangat suka, sangat saying, sangat kasih dan
tertarik hatinya. Sedangkan kasih diartikan sebagai perasaan saying, cinta,
atau suka kepada.
Dari
kata cinta kasih ini, lahir pula beberapa padanan kata yang hampir semakna.
Sebut misalnya, “kasih sayang”, “belas kasihan”, “kemesraan” dan “pemujaan”. Cinta
kasih merupakan inti dari keberadaan manusia ( the core of existence ). Dalam
konteks lain, cinta kasih mengandung makna yang lain, seperti “jatuh cinta”,
“dilamun asmara”, “cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya”, “cinta pada
alam dan seni”, “cinta kepada negara”, “cinta sesama manusia” dan yang lebih
tinggi “cinta kepada Allah Swt.”.
Semua
istilah tersebut di atas tidak sama, akan tetapi merupakan variasi-variasi dari
sekian banyak istilah. Istilah-istilah ini merupakan padanan yang sangat memiliki
arti yang mengarah pada satu pemaknaan yang utuh. Sehingga melahirkan
tingkatan-tingkatan cinta. Realitas yang tersaji sekarang dihadapan kita
(kondisi internal dan eksternal masing-masing individu) sangat memungkinkan
memberikan tingkatan pada cinta itu. Sehingga lahir ‘cinta kasih yang rendah’,
‘cintah kasih yang menengah’, dan ‘cinta kasih yang tinggi dan luhur’.
Penggambaran
akan aktualisasi cinta seperti di atas sudah sangat jauh dari fungsi dan peran
manusia sebagai abdi sekaligus khalifah di muka bumi. Cinta rendah tak ubahnya
seperti binatang (tidak adanya peran akal yang bermain dalam tataran prilaku),
sedangkan pecinta tipe kedua memeliki pribadi ganda (split personality). Lalu
bagaimana aktualisasi cinta yang sebenarnya yang luhur dan memiliki derajat
yang tinggi? Kita akan uraikan pada penjabaran selanjutnya.
Dalam
perspektif peradaban Yunani, cinta dibagi dalam tiga jenis. Ketiga jenis itu
adalah;
1)
Cinta Egape, ialah cinta manusia kepada Tuhan
yang diwujudkan dengan komunukasi ritual (vertical/horizontal).
2)
Cinta Philia, ialah cinta kepada ayah-ibu (orang
tua), keluarga, saudara, sahabat, dan sesama manusia.
3)
Cinta Eros / Amos, ialah cinta antara pria dan wanita
(suami dan istri).
2.2.
MACAM-MACAM CINTA KASIH
Mengacu
pada perspektif sekarang, yaitu dalam hubungan cinta kasih yang timbul antara
dua jenis manusia yang berbeda kelamin dapat dibedakan dalam empat macam
pertumbuhan cinta, yaitu :
2.2.1.
Cinta kasih karena kebiasaan
Adalah cinta yang
diperoleh berdasarkan tradisi masyarakat yang dibiasakan, seperti menikahkan
anak-anak yang sebelumnya tidak saling kenal dan cinta tumbuh karena ikatan
sudah ada.
2.2.2.
Cinta kasih karena penglihatan
Adalah cinta yang tumbuh
karena penglihatan, seperti kata pepatah :
Darimana datangnya
linta
Dari sawah turun ke
kali
Darimana datangnya
cinta
Dari mata turun ke
hati
Manusia sebagai makhluk
social mempunyai kodrat terbaik pada suatu obyek yang dipandang indah, cantik,
menarik, dan lain-lain.
2.2.3.
Cinta kasih karena kepercayaan
Adalah cinta kasih yang
lahir dari kepercayaan atau keyakinan. Hubungan untuk memadu cinta kasih
biasanya diperlukan waktu yang cukup lama untuk saling menyelidiki karakter,
dan saling memupuk cinta kasih.
2.2.4.
Cinta kasih karena angan-angan
Adalah cinta yang lahir
dari pengaruh angan-angan atau khayal saja, cinta yang penuh fantasi.
Menurut
teori, cinta adalah sikap dasar untuk memperhatikan kepuasan dan ketentraman
serta perkembangan orang yang kita cintai. Prakteknya, cinta berarti bersedia
melepas kesenangan, mengabadikan waktu, bahkan mengorbankan ketentraman kita
demi peningkatan kepuasan, ketentraman, dan perkembangan orang lain. Namun,
menerangkan anatomi cinta sangat sulit.
2.3.
CINTA KASIH MENURUT PARA AHLI
Menurut
Erich From, cinta merupakan tindakan aktif (bukan pasif). Berdiri di
dalam cinta (bukan jatuh di dalamnya), memberi (bukan menerima). Sedang R.M.
Rilke, cinta merupakan dorongan luhur bagi seseorang untuk menuju
kematangan, untuk menjadi sesuatu dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Kita
akan coba sajikan beberapa unsur-unsur cinta.
2.3.1.
Kasih Sayang
Menurut
Mery Lutyens, bahwa kasih saying adalah factual, bukan sentimental yang
mengandung emosional yang dapat ditangisi kepergiannya maupun kedatangannya.
Memiliki kasih sayang berarti memiliki simpatik, ia bebas dari rasa takut,
paksaan dan kewibawaan serta tindakan akal budi pada diri sendiri. Dalam kasih
saying, sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut “tanggung
jawab”, “pengorbanan”, “kejujuran”, “pengertian”, dan “keterbukaan” sehingga
keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
2.3.2.
Kemesraan
Menurut
Suryadi, bahwa kemesraan berasal dari kata “mesra” yang artinya simpati
yang akrab. Kemesraan adalah hubungan akrab antara setiap individu.
2.3.3.
Belas Kasih
Belas
kasih adalah hati yang iba dan rasa saying atau cinta kepada sesuatu atau
seseorang. Arti lain yakni mengucapkan syukur, maksudnya merupakan pemberian
itu menyentuh rasa kebutuhan seseorang yang diberi. Dalam menumpahkan belas
kasihan, benar-benar harus keluar dari hati yang ikhlas, tidak terkandung
unsure pamrih. Maksudnya, yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan
orang yang dibelas kasihi. Karena kita sekarang berada pada kemanusiaan dan
kesadaran hokum yang menjadi nilai universal, maka setiap permasalahan harus
didekati secara professional.
2.3.4.
Pemujaan dan Pemujian
Pemujaan
merupakan bentuk penghormatan seseorang kepada sesuatu yang tentu akan
melahirkan pujian sebagai bentuk apresiasi bahkan boleh dikatakan sebagai
bagian dari penghormatan itu sendiri. Di dalamnya, ada makna ketakjuban dan
penghargaan atas segala kebaikan dan kelebihan.
Memanifestikan
cinta banyak sekali ragamnya, salah satunya dengan melalui lambang. Lambang
dalam hal ini merupakan sebuah bentuk media dalam mengungkapkan rasa cinta itu.
Lambing dapat berupa bahasa, seperti cerita, pantun, syair, puisi, dan
lain-lain. Dapat berupa gerak, seperti tari. Dapat berupa suara atau bunyi,
seperti lagu dan musik. Dapat berupa warna dan rupa, seperti lukisan, hiasan,
bangunan, dan lain-lain. Tapi perlu dipahami, lambang yang disebutkan di atas
maupun jenis lambang yang lain bukan merupakan objek cinta (yang oerlu
dicurahkan rasa cinta), akan tetapi lambang-lambang tersebut adalah jalan atau
cara bahkan nerupakan media untuk mencintai.






0 komentar:
Posting Komentar